Realita & Corak Ragam Dakwah di Indonesia

Islam di Indonesia yang telah berkembang pesat dan dibuktikan dengan jumlah penduduk Muslim yang mencapai +88% tidak lepas dari aktifitas dakwah yang dilakukan oleh umat Islam, baik secara perorangan maupun kelembagaan. Penyebaran Islam ke seluruh wilayah tanah air daru kota-kota besar sampai ke daerah-daerah terpencil merupakan wujud dari kegiatan dakwah tersebut.

Salah satu ciri dari agama dakwah adalah tertanamnya rasa moral yang tinggi di kalangan pemeluknya untuk menyebarkan dan mem-perkembangkan agamanya sebagai kewajiban luhur yang diyakini akan mendatangkan ganjaran pahala yang besar dari Tuhan, disamping memberi kepuasan batin bagi dirinya. Dalam Islam, kewajiban itu mendapatkan legitimasi dari Alquran dan hadis-hadis Nabi saw berupa perintah menjadi dā’i sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap Muslim.

Umat Islam di Indonesia tampaknya memiliki rasa dan tanggung jawab untuk mendakwahkan agama yang dipeluknya. Itulah sebabnya, kegiatan dakwah baik dalam arti berbal (bi lisān al-maqāl) maupun dalam arti praktis (bi lisān al-hāl) merupakan rutinitas umat. Dakwah yang sering diartikan sekadar ceramah dalam arti sempit, minimal sekali kegiatan terlihat dalam bentuk majelis-majelis taklim, khutbah-khutbah, kegiatan memperingati hari-hari besar Islam, pengajian-pengajian agama pada moment-moment tertentu, seperti kematian, perkawinan, aqiqah, hajatan haji, naik rumah baru dan semisalnya. Dalam skala yang lebih luas kegiatan dakwah secara intens dilakukan melalui lembaga-lembaga sosial keagamaan dari yang bertarap internasional, regional, nasional sampai kepada tingkat lokal. Lembaga-lembaga pendidikan yang berlabel Islam dari tingkat paling rendah sampai ke pendidikan tinggi juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan dakwah.

Di kota-kota besar, kegiatan-kegiatan dakwah demikian marak karena hampir setiap komunitas atau kelompok Muslim aktif me-laksanakan dakwah. Mulai dari lorong-lorong kumuh sampai ke hotel-hotel berbintang, dari kantor-kantor pemerintah sampai perusahaan-perusahaan kecil dan raksasa, pada umunnya mengadakan acara dakwah secara rutin. Bahkan kegiatan dakwah melalui mas media demikian gencarnya sehingga setiap pagi umat islam di seluruh Indonesia dapat dengan bebas memilih saluran-saluran dakwah di radio dan televisi dan atau membacanya melalui media-media cetak. Di era teknologi informasi ini, internet  merupakan media dakwah yang cukup menarik dan menjanjikan di masa depan.

Dakwah dalam bentuk amaliah praktis (bi lisān al-hāl) terwujud dalam bentuk pembangunan sarana-sarana sosial keagamaan seperti masjid dan musallah yang bertebaran di mana-mana, rumah sakit-rumah sakit Islam, sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren, serta kegiatan-kegiatan ekonomi untuk pemberdayaan umat.

Kegiatan dakwah yang begitu gencar dan marak di negeri ini, dari satu segi sangat menggembirakan karena bisa menjadi trade mark dari Islam di Indonesia. Tetapi dari segi lain banyak hal yang belum memberi kepuasan, misalnya dari aspek keberhasilan meningkatkan pemahaman penghayatan, pengamalan, kesadaran dan wawasan keislaman di kalangan umat Islam itu sendiri.

Dari sudut eksternal, dakwah juga belum menunjukkan keber-hasilan dalam intensitas berbagai sektor kehidupan: sosial, politik, seni, budaya, keluarga, termasuk pengembangan IPTEK. Dengan kata lain dakwah di Indonesia masih lebih dominan pada corak kesemarakan, ketimbang corak kedalaman dan keluasan. Yang pertama, berhasil melahirkan Islam yang meriah dengan wajah formal, ritual dan cenderung ekslusif. Sementara yang kedua, diharapkan mampu melahirkan Islam yang ber-wajah fungsional, ingklusif, moderat dan berwawasan sosial, moral dan spritual yang tinggi. Harus pula diakui bahwa kita berdakwah hanyalah ditugaskan untuk menyampaikan saja (QS. al-Gāsiyah/88:21-22), masalah hasil akhir dari kegiatan dakwah, sepenuhnya kita serahkan kepada Allah swt sebagai pemberi hidayah.

Problem Fenomenal Dakwah Masa Kini

Dalam konteks keindonesiaan, seringkali konsep dakwah menyimpang dari subtansi yang sebenarnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara seksama mengenai penyimpangan konsep dakwah di tengah-tengah masyarakat kita, yakni :

  1. Dakwah sering disalah mengertikan sebagai pesan yang datang dari luar, sehingga langkah pendekatan lebih diwarnai dengan interventif, dan para dai lebih mendudukkan diri sebagai orang asing, tidak terkait dengan apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh masyarakat.
  2. Dakwah sering diartikan menjadi sekedar ceramah dalam arti sempit, sehingga orientasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat rohani saja.
  3. Masyarakat yang dijadikan sasaran dakwah sering dianggap vacuum, padahal dakwah berhadapan dengan setting masyarakat dengan berbagai corak dan keadaannya.
  4. Dakwah yang diartikan hanya sekedar menyampaikan dan hasil akhirnya terserah kepada Allah, akan menafikan perencanaan, pelaksanan dan evaluasi dari kegiatan dakwah. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya bila kegiatan dakwah hanya asal-asalan.
  5. Allah swt akan menjamin kemenangan hak yang didakwahkan, karena yang hak jelas akan mengalahkan yang batil.

Berdasarkan apa yang di atas, maka jelaslah bahwa  konsepsi dakwah yang integralistik adalah suatu proses yang berkesinambungan dan ditangani oleh para pengembang dakwah. Hal ini dikarenakan Islam adalah dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah.

Hanya saja, proses dalam berdakwah tersebut diperhadapkan oleh berbagai problematika, karena situasi masa kini telah berubah, dimana tindakan kaum Muslimin pun berubah. Banyak hal yang dilakukannya bertentengan dengan tuntutan Islam, kian hari kian menajam dan curam. Keadilan yang merupakan senjata dakwah Islam kini karatan dan lapuk di tangan mereka sendiri.

Problematika dakwah di Indonesia tentu saja, sangat kompleks, variatif, serta berkembang terus mengikuti dinamika bangsa. Tetapi salah satu problem dakwah yang sangat fenomenal menurut hemat saya terletak pada orientasi dan model dakwah yang tidak pernah mengalami per-kembangan dan perubahan siginifikan. Hadis Nabi yang memerintahkan kita berdakwah sesuai dengan kondisi zaman dan konteks kehidupan belum dapat direalisasikan secara sungguh-sungguh oleh pelaksana dakwah.

Dari segi subyek dakwah, para dai lebih banyak melaksanakan kiprah dakwahnya menuruti ego-subyektifitas-nya sendiri dan tidak berusaha untuk memperluas cakrawala dan wawasannya mengikuti  tuntutan zaman dan kebutuhan umat. Bahkan (maaf), menurut pengamatan saya banyak muballig kita yang demikian ekslusif sehingga dalam menyampaikan dakwahnya tujuan-tujuan luhur dari dakwah seringkali terlupakan. Misalnya banyak di antara mereka yang lebih mengidentifikasi diri sebagai “pelawak” mimbar ketimbang sebagai pembawa missi keagamaan; lebih bertindak sebagai pemberi tontonan ketimbang tuntunan. Dakwah dianggap seolah-olah tidak berhasil kalau audiens tidak dikocok perutnya dengan lawakan-lawakan murah dan terkadang vulgar. Dakwah lebih ditonjolkan sebagai entertaiment untuk menghibur masyarakat sehingga agama lebih berfungsi rekreatif ketimbang sebagai pedoman hidup yang mestinya dikaji dan diamalkan secara serius dan penuh kesungguhan. Tentu saja “keseriusan” terhadap agama tidak identik dengan “kekakuan”. Dakwah pasti akan sangat membosankan bila dikemas secara kaku dan monoton tanpa ilustrasi-ilustrasi menarik dan humor-humor kecil untuk penyegaran. Tetapi kita harus menghindari jangan sampai tujuan dakwah yang luhur itu menjadi kabur dan tertutupi oleh lawakan-lawakan konyol dari si dai.

Salah satu penomena menarik di Indonesia masa kini adalah munculnya dai-dai atau muballig-muballig yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama secara formal, termasuk artis-artis yang menjadi dai dadakan di bulan suci Ramadhan. Tentu saja, plus minus dari kemunculan artis-artis sebagai dai, meskipun pada umumnya mereka tampil sebagai pembawa acara atau pemandu dari Nara Sumber. Banyak kritikan yang ditujukan kepada mereka, baik dari segi konstum maupun dari segi pengetahuan agama serta sikap dan perilaku mereka sehari-hari yang umumnya tidak sejalan dengan tampilan mereka sebagai pembawa acara dakwah. termasuk dalam hal ini pelawak-pelawak yang berakwah di media-media tertentu dan menjadikan agama sebagai bahan lawakan.

Bentuk lain dari ekslusifitas dakwah yang sampai hari ini masih banyak terlihat adalah sempitnya wawasan dan cakrawala pandang dari sebagian muballig dalam menyampaikan dakwah di masyarakat. Ajaran-ajaran agama ditangkap dalam maknanya yang kaku dan tidak ada ruang untuk interpretasi yang berbeda. Mereka seringkali mebuat klaim-klaim yang menempatnya diri dan fatwa-fatwanya sebagai yang paling benar sementara orang atau kelompok lain diposisikan sebagai pihak yang salah dan tidak perlu didengar, apalagi ditaati. Sikap seperti ini jelas sangat menghambat terjadinya proses pengembangan ajaran-ajaran Islam mengikuti dinamika zaman dan masyarakat yang berubah terus-menerus. Mereka tidak menagkap semangat ajaran Islam yang sangat terbuka dan selalu siap untuk direinterpretasi, khususnya pada dimensi ajaran yang bersifat mu’amalah (sosial kemasyarakatan).

Munculnya kelompok-kelompok “sempalan” yang begitu semarak akhir-akhir ini merupakan problema tersendiri krn dinamika dari kelompok tersebut begitu tinggi dalam mengembangkan ajaran-ajarannya yang pada gilirannya berdampak positif bagi pengembangan dakwah Islam. Di antara kelompok-kelompok tersebut ada yang sangat berhasil melakukan proses “islamisasi” khususnya secara internal meskipun yang disentuh biasanya terbatas pada aspek ritual dan moral. Segi negatif dari kelompok-kelompok ini adalah menyemarakkan kembali ekslusifitas di tubuh Islam yang mestinya sedapat mungkin dihindari dan menimbulkan kesan semakin terpecahnya umat Islam dalam sekte-sekte.

Perpecahan umat Islam ke dalam aliran-aliran yang berdampak pada renggangnya solidaritas dan Ukhuwwah Islamiyyah merupakan masalah abadi yang dihadapi oleh umat Islam sepanjang sejarahnya. Bahkan boleh dikatakan bahwa masalah ini bersifat universal untuk semua agama di dunia ini.

Secara umum, khususnya di Indonesia, kemajemukan tersebut memiliki nilai-nilai positif dan negatif. Segi positifnya adalah terbukanya kesempatan untuk berkompetisi secara fair dalam beramal sālih, ber amar ma’rūf dan ber nahi mungkar. Bahkan jalinan kerjasama antara kelompok Islam bisa mewujudkan kekuatan Islam yang dahsyat dan diperhitungkan. Kemajemukan itu juga menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang memiliki khazanah ajaran yang sangat kaya dan memberi peluang yang luas bagi umatnya untuk mengembangkan ajaran-ajaran agamanya sesuai dengan tuntutan zaman. Perbedaan-perbedaan di kalangan umat Islam adalah merupakan watak esensial dari agama yang dibawah Nabi Nabi saw. Sisi negatifnya adalah terbukanya potensi disintegrasi di kalangan umat Islam krn gesekan-gesekan antar aliran dan kelompok seringkali tidak bisa dihindari. Gesekan-gesekan ini terkadang meningkat menjadi perseteruan tajam yang meretakkan hubungan antar umat Islam. Sisi positif dari kemajemukan ini mestinya lebih ditonjolkan agar umat Islam terbiasa dalam suasana perbedaan tanpa harus saling mengklaim dan agar mereka dapat menjalankan dakwah isl dalam semangat fatabiq al-khairāt yang tinggi demi terwujudnya ‘iz al-Islām wa al-Muslimūn.

Adapun problema fenomenal dakwah lainnya adalah menyangkut hubungan antar umat beragama yang memiliki dinamika yang sangat tinggi di Indonesia. Watak agama secara umum yang ingin menyebarkan agamanya kepada orang lain; atau ingin “memaksakan” agar ajaran-ajaran agamanya teraplikasi dalam berbagai dimensi kehidupan, menjadi faktor yang cukup dominan bagi terjadinya ketidakharmonisan bahkan disintegrasi antar umat beragama, serta perseteruan antara umat beragama dengan wilayah-wilayah kehidupan profan.

Konflik antar umat beragama di Indonesia lebih besar potensinya pada hubungan Islam-Nasrāni ketimbang dengan agama lainnya. Di samping faktor kesejarahan, hal ini kelihatannya disebabkan karena umat Islam yang mayoritas dianggap sebagai momok oleh kaum Nasrāni sementara Nasrāni yang minoritas, oleh umat Islam, dinggap memiliki potensi besar untuk berkembang pesat mengancam wilayah-wilayah yang sudah mapan keislamannya. Semangat missi (dakwah) yang dikembangkan oleh umat Nasrāni yang demikian tinggi dan didukung oleh bantuan-bantuan internasional ditengarai oleh kalangan Islam sebagai upaya kristenisasi terhadap umat Islam, khususnya di wilayah-wilayah penduduk miskin. Akibat dari itu semua, maka timbullah konflik SARA.

Dakwah yang dikembangkan dalam suasana konflik, bisa me-nimbulkan implikasi luas bila tidak dikemas dengan baik dan arif. Seorang dai bisa saja bertindak sebagai “provokator” terhadap umat dengan mengorbankan semangat jihad sebagai tugas suci membela agama. Dalam kaitan ini, jihad dimaknai dalam artinya yang ekslusif, yaitu perang suci melawan non-Muslim (kafir) demi mepertahankan dan menegakkan agama Allah. Sebaliknya, bila si dai memahami makna jihad dalam arti luas dan menghayati makna Islam secara esensial, yaitu “menciptakan kedamaian” maka kemasan dakwah bisa lebih arif dan tidak selalu harus bersifat prpvokatif. Kapan jihad dimaknai secara ekslusif dan kapan dimaknai secara lebih luas merupakan pilihan yang arif dari seorang dai dengan melihat berbagai kondisi yang mengitari.

Ketegangan antara agama dengan wilayah-wilayah kehidupan profan muncul karena adanya semangat dari kaum agamawan, termasuk Islam, untuk “meng-agamakan” kehidupan ini. Dalam Islam dikenal, istilah Islamisasi kehidupan yaitu, upaya untuk menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam berbagai dimensi kehidupan. upaya islamisasi ini seringkali berbenturan dengan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang merasa terusik dengan gerakan tersebut yang pada gilirannya memicu terjadinya konflik. Contoh kongkretnya adalah kasus RU tentang Pornografi dan Pornoaksi yang digodok di DPR menimbulkan protes keras dari berbagai kalangan seniman yang tidak mau diatur oleh norma-norma lain di luar norma seni. Bahkan ada seniman/artis yang menyatakan akan datang ke DPR telanjang bulat sebagai protes atas RUU tersebut.

Untuk menghindari terjadinya konflik-konflik seperti dimaksud di atas, maka diperlukan kearifan mengemas dakwah sehingga upaya-upaya Islamisasi terhadap kehidupan dapat berjalan dengan baik.

Prototipe Problematika Dakwah

Selain problema menyangkut pelaksana dakwah maupun pemilihan materi-materi dakwah yang tepat, dakwah di Indonesia menghadapi problema berupa ketidakmampuan menerapkan nilai-nilai dan ajaran Islam secara nyata dalam kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan umat Islam secara internal. Meskipun kegagalan ini tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab dakwah, karena terkait dengan banyak aspek, khususnya keluarga, pendidikan dan lingkungan termasuk pengaruh globalisasi, namun kegagalan ini harus menjadi kajian serius di kalangan lembaga-lembaga dakwah. meskipun beleum ada penelitian khusus mengenai korelasi atau pun pengaruh dakwah terhadap perubahan sikap dan perilaku umat Islam di Indonesia namun fenomena-fenomena yang terlihat di permukaan menunjukkan bahwa pengaruh tersebut kelihatannya kurang signifikan. Artinya, dakwah yang begitu gencar di tanah air selama ini di samping belum berhasil mengubah sikap mengangkat derajat dan martabat umat ke kehidupan yang lebih sejahtera. Padahal tujuan dakwah adalah terwujudnya masyarakat Islam yang konsisten dalam mengamalkan ajaran-ajaran agamanya yang ditandai dengan sikap dan perilaku islami, serta tercapainya kehidupan yang sejahtera dan bahagia dunia-akhirat.

Menurut hemat saya, kegagalan misi dakwah ini harus dicari penyebabnya untuk lebih menata langkah-langkah perbaikan dakwah ke depan agar lebih afektif. Salah satu faktor yang ditengarai menjadi penyebabnya adalah bahwa dakwah selama ini terlalu berorientasi pada aspek kesemarakan dan aspek formal serta kurang menyentuh aspek sosial, moral dan fungsional dari agama. Dakwah yang dikemas selama ini memang sangat mementingkan aspek  syiar dan aspek formalisme agama. Hal ini menyebabkan umat tanpak memiliki semangat keagamaan yang tinggi tapi terbatas pada penonjolan simbol-simbol agama serta pe-laksanaan ritualnya. Umat seolah-olah sudah merasa melaksanakan agama secara baik bila mereka sudah aktif dalam melaksanakan ibadah-ibadah formal dan memakai atribut-atribut agama dalam kesehariannya, seperti jilbab, pakaian Muslim, songkok putih, serban, jubah dan semisalnya. Sementara itu, mereka tidak menyadari bahwa nilai-nilai agama yang luhur bukan hanya terbatas pada aspek formal tersebut melainkan harus menukik pada aspek-aspek sosial, moral dan spritual. Misalnya hidup disiplin dan tertib, beretos kerja yang tinggi, menghargai waktu, tetapt janji, terpercaya dan bertanggung jawab, berakhlak mulia, menjauhi sifat-sifat tercela, menghargai dan turut memelihara lingkungan hidup secara konsisten. Singkatnya, nilai-nilai agama harus fungsional dan mewarnai kehidupan setiap Muslim dalam kesehariannya.

Sifat-sifat yang disebutkan terakhir di atas merupakan perwujudan seorang Muslim yang baik, yaitu yang menghimpun pada dirinya iman, Islam dan ihsan, atau akidah, syari’ah dan akhlak. Memang tidak mudah untuk membentuk Muslim yang baik seperti yang digambarkan. Namun tugas dakwah haruslah diarahkan kepada pembentukan masyarakat Muslim yang memiliki ciri-ciri tersebut. Untuk mencapai hal tersebut semua aspek yang terkait dengan dakwah yang meliputi subyek, metode, materi, media, manajemen, pendanaan, institusi dakwah termasuk peta dakwah harus dapat dibenahi dan dikemas dengan sebaik-baiknya.

Professionalisme dalam dakwah memang merupakan tuntutan yang tampaknya tidak bisa ditawar lagi. Meskipun professionalisme selalu dikesankan sebagai membayar orang sesuai dengan keahlian dan jasa yang diberikan, namun untuk tugas dakwah jasa mestinya tidak harus menjadi faktor yang sangat menentukan. Harus diakui bahwa jasa dalam berdakwah merupakan fenomena yang menimbulkan kontroversi. “Ustaz Amplop” terkadang menjadi guyonan sekaligus sindiran halus di kalangan muballig. Namun realitas masyarakat, khususnya perkotaan, tanpaknya dapat menerima faktor jasa dalam berdakwah meskipun tidak harus ada penetapan tarif. Sebab yang terakhir ini memang terkesan mereduksi nilai dakwah sebagai tugas suci yang harus diemban oleh setiap Muslim, terutama mereka yang memiliki kemampuan dan berlatar belakang pendidikan Islam.

Salah satu problem lain dari dakwah yang cukup menonjol di negeri ini adalah adanya kesenjangan antara gerakan dakwah di kota-kota dan di desa-desa, baik dari segi intensitas dan kuantitas maupun dari segi bobot dan kualitasnya. Intensitas dakwah di perkotaan sedemikian tinggi dengan frekuensi yang sangat besar disertai bobot dan kualitas yang sangat bagus. Sementara di pedesaan, intensitas dakwah sangat rendah, frekuensi-nya kecil dan bobir serta kualitasnya juga rendah. Dalam realitasnya, muballig-muballig kondang dan berbobot berkumpul di perkotaan, bahkan kadang “menganggur”, sementara masyarakat pedesaan begitu haus dengan siraman-sisraman rohani yang seringkali tidak terpenuhi karena langkanya muballig dan dai. Bahkan dalam beberapa kasus, terkadang shalat Jum’at di masjid-masjid tertentu terpaksa batal karena tidak ada jama’ah yang bersedia membaca khutbah. Sudah bisa dipastikan bahwa daerah-daerah terpencil keadaannya tentu jauh lebih parah dan lebih menyedihkan.

Terjadinya kesenjangan besar antara kota dan desa dalam pe-laksanaan kegiatan dakwah seperti yang digambarkan antara lain disebabkan karena daya tarik kota yang demikian besar dengan iming-iming yang begitu menjanjikan, sementara hal yang serupa tidak ditemukan di desa. Kalau ini benar berarti idealisme para dai/muballig selama ini memang hanayalah sebuah retorika. Barangkali memang sangat manusiawi kalau seorang Muslim yang berprofesi dai/muballig tetap mengedapankan kepentingan-kepentingan praktis sepanjang ia tetap konsisten dengan missi dakwahnya. Namun bila tujuan seorang menjadi dai/muballig hanya semata-mata karena “amplop” maka itulah yang mestinya dihindari.

Selain problematika dakwah yang dikemukakan di atas, dakwah juga diperhadapkan dengan sejumlah tantangan sebagai dampak lagnsung atau tidak langsung dari arus informasi dan globalisasi yang melanda seluruh aspek kehidupan. Meskipun bukan hanya dakwah yang harus memikul tanggung jawab untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut karena cakupannya yang luas terhadap aspek-aspek kehidupan lainnya, namun dakwah sebagai jantung Islam memiliki kepedulian tinggi untuk meresponsnya secara proaktif.

Missi perbaikan masyarakat yang menjadi tugas inherent dari dakwah mengharuskan pada dai/muballig untuk memberi perhatian yang lebih intens terhadap masalah-masalah tersebut. Pendekatan agama melalui dakwah tetap merupakan model pendekatan yang selalu relevan untuk merespons masalah-masalah aktual seperti yang telah disebutkan, apalagi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang dikenal religius.

Prototipe problematika dakwah di negeri ini seperti yang telah dipaparkan di atas mengharuskan para dai/muballig serta para pengelolah dakwah di negeri ini untuk bersama-sama mencari solusi bagi pemecahan dan bersikap proaktif untuk memberi respons demi tercapainya cita-cita dakwah. Para dai/muballig dan isntitusi-institusi pengelolah dakwah harus menyadari bahwa tanggung jawab keberhasilan dakwah ke depan berada di pundak mereka. Ini berarti kejayaan Islam ataupun kemundurannya di masa datang juga menjadi tanggung jawab yang harus dipikul secara bersama-sama.

Perbedaan-perbedaan karena latar belakang organisasi, afiliasi politik, kecenderungan mażhab dan sebagainya, tidak harus menjadi penghalang bagi terwujudnya persatuan dan ukhuwwah yang dimaksud sebab pluralitas di tubuh umat adalah bagian dari dinamika yang justeru merupakan sunnatullah yang tidak dapat dan tidak harus ditolak ataupun dieliminasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *