Dakwah Islam Masa Kini

Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ajarannya berisi seruan dan aturan agar setiap manusia yang menganutnya mampu menjalankan hakikat kehidupan ini. Sudah barang tentu mereka yang taat dan mengamalkan ajaran Islam secara kafah, akan memiliki kepribadian Qurani. Dan barangsiapa yang telah melandaskan hidupnya pada al-Qur’an, sama halnya ia telah meneladani kepribadian seorang kekasih Allah SWT, yakni Rasulullah SAW.
Fakta sejarah telah bercerita panjang lebar tentang akhlak mulia yang dimiliki seorang Rasulullah SAW dalam kehidupannya sehari-hari. Kesopan-santunan dan keluhuran budi pekertinya menjadi pilar penting bagi eksistensi gerakan dakwah Islam hingga detik ini. Bahkan, Michael H. Hart di dalam bukunya “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” menempatkan Rasulullah SAW pada urutan teratas alias nomor satu sepanjang sejarah ketokohan dunia.
Ironisnya, era modern seperti sekarang ini dengan kemajuan di berbagai bidang termasuk pola pikir masyarakat yang dinamis, masih saja ada perilaku dakwah yang menyimpang dari tuntunan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Etika berdakwah saat ini cenderung berbau materialis sehingga memunculkan istilah ustaz bertarif. Dimana, seruan dakwah hanya dilakukan apabila adanya kesepakatan tarif sebagaimana yang telah ditentukan oleh pendakwah atau dai. Wajar bila kemudian menjamurnya dai-dai bertarif yang jauh dari sertifikasi para ulama. Dai yang hanya mengejar popularitas dan fasilitas dunia, tanpa memiliki etika berdakwah yang benar.
Mirisnya lagi, banyak di antara dai-dai bertarif tersebut menolak dengan terang-terangan undangan atau permohonan dari sebuah majelis taklim untuk mengisi kajian. Penolakan tersebut sebagian besar hanya dikarenakan fasilitas yang disediakan panitia tidak sesuai harapan beberapa ustaz bayaran tersebut. Fenomena ini tentu sangat kontradiksi dengan etika berdakwah ala Rasulullah SAW. Beliau selalu berdakwah kapan dan di manapun berada dengan fasilitas apa adanya.
Bahkan, tak jarang Rasulullah mendapat cacian dan penganiayaan dari orang-orang kafir yang senantiasa memusuhinya. Hampir sering dalam perjalanannya untuk menyerukan kalimatullah, Rasulullah mendapat lemparan batu maupun kotoran hewan. Dengan kondisi demikian, apakah Rasulullah berhenti untuk berdakwah? Marahkah Beliau kepada mereka yang mencemooh gerakan dakwahnya? Lalu, bagaimana Rasulullah SAW menghadapi semua ujian tersebut?
Inilah sekiranya yang perlu untuk digaris bawahi bagi siapapun yang akan dan telah menobatkan dirinya sebagai juru dakwah Islam. Kesantunan dalam berdakwah merupakan syarat mutlak yang tidak boleh ditawar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *